Tunjukkan imajinasimu! Tulis cerita anak terkerenmu, biarkan pembaca menjadi juri penentunya, dan menangkan hadiah fantastis!
Baca ceritanya, kalau suka jangan lupa klik tombol Love!
*(Sistem hanya menerima 1 kali 💞 🤤)*
Pada suatu malam, ketika bulan bersinar seperti bola perak, tujuh anak pemberani tiba-tiba melihat cahaya hijau muncul di langit.
Cahaya itu semakin terang…
WUUUSSSHH!
Tiba-tiba, sebuah pusaran angin membawa mereka ke sebuah pulau misterius yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Di kejauhan berdiri gunung raksasa dengan puncak yang berkilauan seperti kristal.
“Di mana kita?” tanya Raka dengan mata terbelalak.
Sebelum ada yang menjawab, terdengar suara menggelegar dari atas gunung.
“TOLONG… SELAMATKAN NAGA ISLAND!”
Ketujuh anak itu saling berpandangan.
Dari balik awan turunlah seekor naga tua berwarna biru keemasan. Tubuhnya sangat besar, tetapi matanya lembut dan penuh kesedihan.
“Aku adalah Arvion, naga tertua di pulau ini,” katanya.
“Pulau kami sedang kehilangan kekuatannya. Tujuh permata penjaga telah menghilang. Jika ketujuh permata itu tidak ditemukan sebelum bulan purnama…”
Arvion menatap laut.
Air laut perlahan mulai naik.
“…seluruh Naga Island akan tenggelam.”
Ketujuh anak itu terdiam.
“Lalu… di mana permatanya?” tanya Lila.
Arvion menunjuk ke tujuh tempat berbeda di pulau itu.
“Permata pertama berada di Hutan Bisikan.”
“Permata kedua tersembunyi di Gua Bayangan.”
“Permata ketiga berada di Lembah Awan.”
“Dan empat lainnya…” Arvion menarik napas panjang.
“…dijaga oleh makhluk-makhluk yang hanya bisa dikalahkan dengan keberanian, kecerdikan, dan kerja sama.”
Mereka pun memulai perjalanan.
Di Hutan Bisikan, pepohonan berbicara dan membuat mereka tersesat.
Di Gua Bayangan, mereka menemukan jembatan batu yang hanya muncul ketika mereka berani melangkah bersama.
Di Lembah Awan, mereka harus memecahkan teka-teki bintang sebelum pintu menuju permata terbuka.
Namun, semakin dekat mereka dengan permata ketujuh, semakin aneh keadaan pulau itu.
Gunung mulai bergetar.
Langit berubah merah.
Dan dari dalam tanah terdengar suara…
DUUUM!
DUUUM!
DUUUM!
“Teman-teman…” bisik Raka.
“Sepertinya kita tidak sendirian.”
Dari balik gunung muncul bayangan naga raksasa berwarna hitam.
Matanya menyala merah.
Namun Arvion justru terlihat ketakutan.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
“Dia sudah bangun.”
“Siapa dia?” tanya Lila.
Arvion menatap mereka dengan wajah serius.
“Dialah penjaga terakhir Naga Island.”
“Dan ternyata… bukan permata yang selama ini dia jaga.”
Ketujuh anak itu semakin penasaran.
“Apa yang dia jaga?”
Arvion menjawab pelan…
“Rahasia terbesar pulau ini.”
Bulan purnama tinggal satu malam lagi.
Tujuh permata harus ditemukan.
Naga hitam harus dihentikan.
Dan rahasia Naga Island harus terungkap…
Sebelum seluruh pulau tenggelam ke dasar laut.
Malam itu, Riko sudah berada di tempat tidurnya. Selimut biru menutupi tubuh kecilnya, sementara boneka kesayangannya berada di samping bantal. Namun, Riko belum juga mengantuk. Ia memandang ke arah jendela dan melihat langit malam yang dipenuhi bintang. “Kenapa mataku belum mau tidur, ya?” gumam Riko sambil menguap.
Tiba-tiba, terdengar suara kecil, “Ting!” Sebuah bintang turun perlahan dari langit dan melayang masuk melalui jendela kamar Riko. Riko langsung duduk dan membelalakkan mata. “Eh? Kamu bisa terbang?” tanyanya. Bintang kecil itu tertawa. “Bukan hanya bisa terbang. Aku juga bisa berbicara.” Riko semakin terkejut. “Tapi… bintang kan ada di langit!” “Benar,” jawab bintang itu, “tapi malam ini kami turun untuk menjemputmu.”
Seketika, puluhan bintang kecil turun dari langit. Mereka memenuhi kamar Riko dengan cahaya lembut seperti kunang-kunang. “Ayo, Riko,” kata salah satu bintang. “Kami punya tugas malam ini.” “Tugas apa?” tanya Riko. “Mengantarkan mimpi.” Tiba-tiba tubuh Riko terasa sangat ringan. Selimutnya berubah menjadi awan lembut dan perlahan membawanya terbang keluar jendela.
Riko terbang melewati atap rumah, melewati awan putih, hingga akhirnya tiba di sebuah tempat yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tempat itu bernama Taman Mimpi. Di sana, bunga-bunga bercahaya tumbuh di atas awan, sungai kecil mengalir seperti pita perak, dan ribuan bintang menggantung rendah di langit. “Wow… indah sekali,” bisik Riko. Salah satu bintang menjelaskan bahwa setiap bunga di taman itu menyimpan sebuah mimpi. Ada bunga yang menyimpan mimpi tentang terbang, bunga yang menyimpan mimpi tentang petualangan, dan bunga yang menyimpan mimpi tentang bertemu teman baru.
Namun, di sudut taman, Riko melihat sebuah bunga kecil yang hampir tidak bercahaya. “Kenapa bunga itu terlihat sedih?” tanyanya. Bintang kecil itu terdiam sejenak lalu menjawab, “Bunga itu menyimpan mimpi seorang anak yang sedang merasa sendirian.” Riko merasa sedih mendengarnya. Ia mendekati bunga tersebut dan menyentuhnya dengan lembut. “Jangan sedih. Kamu tidak sendirian.” Ajaibnya, bunga itu langsung bersinar terang.
Semua bintang bersorak gembira. “Riko berhasil!” Riko tersenyum bingung. “Kenapa bunga itu bisa kembali bercahaya?” Bintang kecil itu menjawab, “Karena mimpi yang paling indah bukan selalu tentang terbang tinggi atau menemukan harta karun. Kadang, mimpi yang paling indah adalah ketika seseorang merasa disayangi.”
Tiba-tiba, seluruh Taman Mimpi menjadi gelap. Ribuan bintang berhenti bersinar. Dari balik awan muncul sebuah bayangan hitam besar. Riko sedikit takut. “Siapa itu?” tanyanya. Bintang kecil menjawab, “Itu Penjaga Malam. Dia bukan makhluk jahat. Dia hanya sudah lupa bagaimana caranya bermimpi.”
Riko memandang bayangan itu. Ia mengambil sebuah bunga bercahaya dan berjalan mendekatinya. “Kalau begitu, mungkin dia hanya perlu diingatkan,” kata Riko. Ia mengangkat bunga tersebut tinggi-tinggi. Cahaya lembut menyinari bayangan hitam itu. Perlahan, bayangan tersebut mengecil dan berubah menjadi makhluk kecil yang sedang menangis.
“Aku sudah lupa rasanya punya mimpi,” katanya dengan suara sedih. Riko tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, malam ini kita buat mimpi baru.” Seketika, ribuan bintang kembali bersinar. Taman Mimpi berubah menjadi lautan cahaya yang sangat indah. Semua bintang berbisik bersama-sama, “Tidurlah, Riko. Pejamkan matamu. Biarkan kami menjaga mimpimu malam ini.”
Perlahan, mata Riko terasa semakin berat. Ia menguap dan menutup matanya. Ketika ia membukanya kembali, Riko sudah berada di tempat tidurnya. Selimut masih menutupi tubuhnya dan boneka kesayangannya masih berada di samping bantal. Ia melihat ke arah jendela. Di sana, satu bintang bersinar paling terang.
Riko tersenyum. “Selamat malam, Bintang.”
Dari kejauhan terdengar suara lembut, “Selamat malam, Riko. Mimpi yang indah.”
Riko menarik selimut sampai ke dagu, lalu memejamkan mata. Malam itu, untuk pertama kalinya, Riko tidak perlu mencari mimpi. Karena mimpi sudah datang mencarinya.
TAMAT. 🌙✨
Pagi itu, Oyen si kucing oren tiba-tiba bangun dengan sebuah ide besar. “Hari ini aku mau jadi chef!” katanya sambil memasang celemek yang kebesaran. Oyen berjalan ke dapur dengan gaya seperti koki terkenal, membawa sendok kayu sebesar tubuhnya. Ia ingin membuat sup paling enak di seluruh rumah. “Pertama, kita butuh wortel!” kata Oyen percaya diri sambil membuka kulkas. Tapi… wortelnya tidak ada.
“Hmm… mungkin wortelnya sedang tidur.” Oyen mencari di bawah meja, di dalam lemari, bahkan di balik pot bunga. Tidak ada. Saat ia sedang kebingungan, terdengar suara kecil dari belakang. “Hehehe…” Oyen menoleh. Ternyata wortelnya sedang bersembunyi di balik sebuah mangkuk. “Hei! Kenapa kamu ngumpet?” tanya Oyen. Wortel itu menjawab, “Aku dengar kamu mau memasakku!” Oyen terkejut. “Lho, memangnya wortel bisa ngomong?” “Bisa dong! Kalau lagi takut!”
Oyen langsung mengambil wortel itu. “Tenang, aku cuma mau bikin sup.” Namun baru saja ia memasukkan wortel ke dalam mangkuk, kentang tiba-tiba menggelinding keluar dari bawah meja. “Tolong! Jangan masukkan aku!” teriaknya. Oyen mengejar kentang itu. “Hei! Berhenti!” Kentang terus menggelinding, melewati dapur, masuk ke ruang tamu, lalu menabrak bantal sofa. “Aduh!” seru kentang. Oyen akhirnya berhasil menangkapnya. “Kamu kenapa lari?” Kentang menjawab, “Aku takut dikupas!” Oyen menggaruk kepalanya. “Ya ampun… semua bahan makanan ternyata penakut.”
Belum selesai mengejar kentang, Oyen mendengar suara dari atas lemari. “Jangan cari aku!” Ternyata bawang sedang bersembunyi di sana. Oyen mendongak. “Kenapa kamu di atas lemari?” Bawang menjawab, “Aku dengar kalau aku dipotong, semua orang akan menangis!” Oyen tertawa. “Itu justru karena kamu bikin mata pedih, bukan karena sedih!” Bawang langsung terdiam. “Oh… jadi aku sebenarnya menyebalkan?” “Sedikit,” jawab Oyen.
Oyen akhirnya mengumpulkan semua bahan: wortel, kentang, bawang, dan beberapa sayuran lainnya. Ia memasukkannya ke dalam panci. Namun ketika hendak menyalakan kompor, tiba-tiba tutup panci berteriak, “JANGAN!” Oyen melompat kaget sampai celemeknya hampir terlepas. “Sekarang tutup panci juga bisa ngomong?!” Tutup panci menjawab, “Aku cuma mengingatkan. Kamu lupa memasukkan air!” Oyen melihat ke dalam panci. Benar saja. Semua bahan sudah masuk, tapi tidak ada air sama sekali.
“Oalah…” Oyen tertawa malu. “Pantas saja dari tadi bahan-bahannya kepanasan.”
Setelah air dimasukkan, Oyen mulai memasak. Ia mengaduk sup dengan penuh gaya sambil menyanyi, “Aku chef Oyen, chef paling keren!” Tiba-tiba sendok kayunya terpental dan mengenai kepalanya sendiri. “TOK!” Oyen terdiam. “Chef paling keren… tapi paling ceroboh,” gumamnya.
Aroma sup mulai memenuhi dapur. Semua bahan yang tadinya takut kini mulai tersenyum. Wortel berkata, “Ternyata memasak tidak semenakutkan yang kukira.” Kentang mengangguk. “Benar. Tapi aku tetap tidak mau dikupas lagi.” Bawang ikut berkata, “Aku juga tidak mau dipotong.” Oyen tertawa. “Kalian ini bahan makanan atau tamu restoran?”
Akhirnya sup selesai. Oyen menuangkan sup ke dalam mangkuk besar dan mencicipinya. “Hmm…” Ia mengunyah pelan. Semua bahan menunggu dengan tegang. “Bagaimana?” tanya wortel. Oyen mengangkat jempol. “ENAK!”
Semua bersorak gembira. Namun tiba-tiba Oyen bersin keras. “HAAACIIING!”
Bawang langsung berteriak, “Nah! Aku bilang juga apa! Gara-gara aku, kamu menangis!”
Oyen mengusap hidungnya dan tertawa. “Bukan menangis, itu cuma bersin!”
Sejak hari itu, Oyen resmi menjadi chef di rumah. Tetapi ada satu aturan baru di dapur: sebelum memasak, semua bahan makanan harus berkumpul dan berhenti bersembunyi.
Meski begitu, setiap kali Oyen membuka kulkas…
wortel selalu pura-pura tidur.
Kentang selalu pura-pura tidak bisa bergerak.
Dan bawang selalu bersembunyi di tempat yang berbeda.
Karena ternyata…
menjadi bahan sup itu tidak pernah mudah kalau chef-nya adalah Oyen!
TAMAT. 🐱🥕🥔😂
Malam itu, Riko sedang duduk di halaman rumah sambil melihat bintang. Tiba-tiba, sebuah cahaya merah melesat dari langit. “Wuuussshh!” Riko mendongak tepat ketika benda kecil itu jatuh ke halaman dengan suara, “DUK!” Rumput beterbangan ke mana-mana. Riko berlari mendekat dan menemukan sebuah robot kecil berwarna perak dengan lampu biru berkedip di kepalanya.
Robot itu bangkit, membersihkan debu dari tubuhnya, lalu berkata, “Bip… bop… ting… zaaa…!” Riko mengedipkan mata. “Hah?” Robot itu mencoba lagi. “BEEP… TING… WOOO… ZAA!” Riko menggaruk kepala. “Kamu ngomong apa?” Robot itu menunjuk ke langit dan mengeluarkan suara seperti radio rusak. “KRRR… BEEP… LAA… LAA…” Riko akhirnya mengerti satu hal. Robot itu bisa bicara, tetapi hanya menggunakan bahasa bintang.
“Aku Riko. Namamu siapa?” tanya Riko. Robot itu menepuk dadanya. Di sana tertulis sebuah nama kecil: BEEP. “Oh, namamu Beep!” Beep mengangguk cepat. “BEEP!” “Kamu dari mana?” tanya Riko. Beep menunjuk ke langit, lalu membuat bentuk planet dengan kedua tangannya. “Mars?” tanya Riko. Mata Beep langsung menyala terang. “BEEP BEEP!” Riko tertawa. “Oke, berarti kamu memang dari Mars.”
Tiba-tiba Beep mengeluarkan sebuah benda kecil dari perutnya. Benda itu berbentuk seperti batu merah yang bercahaya. Beep memegangnya erat-erat lalu menunjuk ke langit. Riko memperhatikan wajah Beep yang terlihat khawatir. “Kamu kehilangan sesuatu?” Beep mengangguk. Ia lalu menunjukkan gambar hologram yang muncul dari tangannya. Dalam gambar itu terlihat sebuah roket kecil dan sebuah planet merah.
Riko mulai mengerti. “Pesawatmu rusak?” Beep mengangguk lagi. “Kalau begitu kita harus memperbaikinya!” seru Riko. Mereka membawa Beep ke garasi. Riko mengambil obeng, sementara Beep mengeluarkan alat-alat aneh dari tubuhnya. Ada kunci inggris mini, kabel bercahaya, dan bahkan sebuah palu yang bisa berbicara. “Halo,” kata palu itu. Riko terkejut. “Sekarang palu juga bisa ngomong?” Beep hanya tertawa, “Bip!”
Mereka bekerja sepanjang malam. Riko memasang kabel, Beep memperbaiki mesin, tetapi tiba-tiba sebuah percikan listrik membuat rambut Riko berdiri. “JRENG!” Riko terdiam dengan rambut mengembang seperti sapu. Beep melihatnya lalu tertawa sampai lampu di kepalanya berkedip-kedip. “Jangan ketawa!” kata Riko. Beep malah semakin tertawa.
Akhirnya, roket kecil Beep berhasil diperbaiki. Namun ketika mereka hendak menyalakannya, Beep tiba-tiba memegang tangan Riko. Ia menunjuk ke langit. Di sana, beberapa cahaya merah bergerak cepat di antara bintang-bintang. Riko menatap dengan heran. “Itu apa?” Beep terlihat sangat takut.
Sebuah suara terdengar dari langit, “BZZZT… BEEP… BZZZT…” Beep langsung bersembunyi di belakang Riko. Riko menelan ludah. “Jangan bilang ada robot lain yang datang mencarimu?”
Dari balik awan muncul tiga robot besar berbentuk bulat. Mereka turun perlahan dan mengelilingi halaman rumah Riko. Salah satu robot berkata dengan suara berat, “Mencari… robot kecil… kode B-EEP.”
Riko berdiri di depan Beep. “Dia temanku. Kalian mau apa?”
Robot besar itu memancarkan cahaya ke arah Beep. “Beep membawa sesuatu yang sangat penting. Sebuah kristal bintang.”
Riko melihat batu merah yang dibawa Beep. Ternyata kristal itu bukan batu biasa. Kristal tersebut adalah sumber energi terakhir dari planet Mars. Jika kristal itu hilang, kota robot di Mars bisa kehilangan seluruh sumber energinya.
Riko berpikir cepat. “Kalau begitu, Beep harus mengembalikannya ke Mars!”
Robot besar itu diam beberapa detik. “Jawaban benar.”
Ternyata mereka bukan musuh. Mereka adalah penjaga yang datang menjemput Beep.
Beep naik ke roket kecilnya. Sebelum pergi, ia kembali kepada Riko dan memberikan sebuah benda kecil berbentuk bintang. Benda itu menyala lembut di telapak tangan Riko. Beep menunjuk benda itu lalu berkata, “BEEP… TING… LAA…”
Riko tersenyum. “Aku juga nggak ngerti bahasamu, Beep. Tapi aku tahu kamu bilang terima kasih.”
Beep mengangguk.
Mesinnya menyala.
WUUUUSSSHHH!
Roket kecil itu melesat ke langit dan menghilang di antara bintang-bintang.
Sejak malam itu, setiap kali Riko melihat langit, ia selalu mencari satu bintang merah yang berkedip tiga kali.
Karena ia tahu…
di suatu tempat yang sangat jauh di Mars, ada robot kecil bernama Beep yang sedang melihat bintang yang sama.
Dan mungkin, suatu malam nanti…
Beep akan kembali.
BEEP… BEEP… TING!
TAMAT. 🚀🤖⭐
Di sebuah kota kecil yang damai, terdapat sebuah rumah kayu tua yang atapnya menjulang tinggi. Di dalam rumah itu, hiduplah seorang kakek yang sangat bijaksana bernama Kakek Dano. Kamar Kakek Dano sangat unik, dipenuhi dengan barang-barang zaman dulu yang sering kita sebut retro.
Di atas meja kayu Kakek Dano, ada banyak sekali tumpukan buku tebal berwarna cokelat tua. Ada juga tempat tinta yang mengkilau, sebuah lampu minyak tanah (sentir) yang memberikan cahaya kuning lembut, dan sebuah cangkir teh hangat yang masih mengeluarkan asap tipis.
Matahari sore itu mulai tenggelam. Cahaya senja yang keemasan masuk dari jendela, menerangi kota kecil, sungai yang berkelok, dan deretan pohon di luar sana. Semuanya terlihat sangat tenang.
Di tengah keheningan itu, Kakek Dano sedang duduk di kursi kesayangannya. Di pangkuannya, terbuka sebuah buku besar berjudul “Catatan Retrospektif”. Kakek Dano sedang membaca tulisan-tulisan dari masa lalunya.
Di dinding tepat di depannya, tergantung sebuah bingkai bertuliskan sebuah kalimat indah: “Tuliskan bukan untuk dikenang, tetapi untuk memahami perjalanan jiwa sendiri.”
Anak-anak, tahukah kalian apa arti kalimat itu?
Malam itu, saat bintang mulai bermunculan di langit, seekor kunang-kunang kecil terbang masuk ke kamar Kakek Dano. Kunang-kunang itu hinggap di tepi lampu minyak tanah.
“Kakek,” panggil kunang-kunang kecil itu dengan suara lembut. “Kenapa Kakek suka sekali membaca buku tua itu? Bukankah lebih sering bermain daripada membaca tulisan lama?”
Kakek Dano tersenyum hangat. Ia menutup bukunya perlahan dan menatap kunang-kunang kecil itu.
“Nak,” ucap Kakek Dano. “Tulisan-tulisan dalam buku ini adalah perjalanan hatiku. Dulu, ketika aku masih kecil seperti kunang-kunang yang lincah, aku sering menulis apa yang aku rasakan di sini. Aku menulis kapan aku merasa senang bermain di pinggir sungai, atau kapan aku merasa sedih karena layang-layangku putus.”
Kakek Dano menunjuk ke arah tempat tintanya. “Aku menuangkan tinta ini ke kertas bukan supaya orang lain mengingatku, apalagi supaya aku menjadi terkenal. Aku menulis supaya aku bisa memahami perjalanan jiwaku sendiri.”
“Memahami perjalanan jiwa?” kunang-kunang mengedipkan cahayanya bingung.
“Iya,” kata Kakek Dano. “Dengan membaca kembali tulisanku, aku jadi tahu bahwa dulu aku pernah takut pada kegelapan. Tapi kemudian aku menulis bagaimana aku bisa berani karena ada cahaya lampu seperti ini. Dulu aku pernah marah, tapi kemudian aku menulis bagaimana rasanya hati yang memaafkan. Menulis membantuku tahu siapa diriku dari masa ke masa, dan membuat jiwaku menjadi tenang.”
Kunang-kunang kecil itu tampak mengerti. Ia pun terbang berputar-putar di sekitar lampu minyak, membuat bayangan tarian yang indah di dinding kamar.
Kakek Dano mengambil cangkir tehnya, meneguk satu suwung, lalu memejamkan matanya. Ia mendengarkan suara air sungai di luar jendela yang mengalir tenang, dan merasakan hangatnya cahaya senja yang berubah menjadi malam.
Angin malam bertiup sangat lembut. Cahaya lampu minyak tanah mulai dikecilkan agar redup. Buku tua itu ditutup rapi. Kunang-kunang kecil pun kembali terbang ke luar jendela, ikut menari di antara rindangnya pepohonan di bawah cahaya bulan.
Kakek Dano pun tertidur dengan senyum damai di wajahnya, dijahit mimpi indah oleh tulisan-tulisannya sendiri.
Pesan Moral: Menulis dan mencatat hal-hal kecil yang kita rasakan setiap hari adalah cara yang sangat baik untuk mengenal diri sendiri dan menenangkan hati. Jadi, jangan ragu untuk menuangkan cerita dan perasaanmu di sebuah buku catatan. Selamat tidur, sobat kecil. Semoga malam ini membawa mimpi yang serasi dan damai.