Kisah di Monas

Oleh: Yoshmoyi1212 Tanggal: 24 July 2026 Rubrik: Senja
Kisah di Monas
Dokumentasi: Arsip RWB

Jakarta selalu riuh, namun sore itu, di bawah bayangan Monas, riak waktu seolah melambat. Udara dipenuhi aroma jagung bakar dan suara kepak sayang merpati yang mencari remah di taman. Di tengah hiruk-pikuk metropolitan yang tak pernah berhenti berdetak, monumen ini menjadi penanda bahwa kota ini punya masa lalu yang patut dikenang.

Saya duduk di salah satu bangku kayu yang warnanya mulai memudar. Mengingat sosok Monas tak lepas dari kenangan masa kecil, ketika dulu naik kereta api dari pinggiran kota terasa seperti petualangan besar. Berlarian di trotoar luas, menatap puncak emas yang menyilaukan di bawah terik matahari, merasa bahwa dunia ini sangatlah luas. Dulu, tidak ada notifikasi yang menuntut perhatian, hanya ada suara tawa renyah anak-anak yang memantul di antara keramaian.

Kini, orang-orang berlalu-lalang dengan mata tertunduk ke arah layar kaca di genggaman mereka. Mereka menangkap momen hanya untuk disimpan di dalam folder digital, lalu terlupakan esok hari. Saya mengeluarkan buku saku dari tas ransel, membiarkan ujung pena bersentuhan dengan kertas yang sedikit kasar. Di sini, tinta jauh lebih jujur daripada lensa kamera; ia menangkap rasa, bukan sekadar cahaya.

Angin sore mulai membawa dingin, mengusap wajah dengan kelembutan khas ibu kota yang mulai padam. Monas tetap berdiri tegak, menjadi saksi bisu ribu kisah yang lahir dan mati di jalanan ini. Saya menutup buku catatan, menyimpan secercah kenangan sore itu, berharap tinta ini bisa menjadi jangkar, agar masa lalu tak ikut hanyut terbawa arus modernisasi.

Ditulis dengan tinta by

Yoshmoyi1212