Ruangan itu berbau kayu tua dan kamper. Di sudut, sebuah mesin tik tertata rapi di atas meja mahoni. Di depan saya, duduk seorang tua dengan kerutan yang dalam seolah memahat sejarah di wajahnya. Tangan-tangannya yang penuh bintik-bintik cokelat gemetar saat menuangkan teh dari teko tanah liat.
Saya datang untuk mewawancarainya tentang peristiwa puluhan tahun lalu, membawa daftar pertanyaan yang terstruktur rapi di buku catatan. Namun, begitu dia mulai bicara, daftar itu kusirat tanpa ampun. Ceritanya tidak mengalir linier. Dia melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lain, berhenti sejenak untuk menatap kosong ke luar jendela, lalu melanjutkan dengan suara yang kadang bergetar menahan emosi.
Ada keheningan yang lebih berbicara daripada kata-katanya. Di sanalah saya belajar bahwa wawancara bukan sekadar tukar menukar informasi. Ini adalah upaya menangkap serpihan memori dari seseorang yang hampir kehilangan genggamannya pada masa lalu. Ketika sesi itu berakhir, saya menutup buku catatan. Beberapa cerita terlalu sakral untuk ditulis lengkap, sebagian lainnya harus dibiarkan mengendap di balik senyum pahit yang ia ukir.