Berdiri di ujung timur Indonesia, di tanah Merauke, terasa seperti berdiri di tepi sebuah dunia yang tak terbatas. Matahari terbit di sini lebih dulu daripada tempat lain, menyinari padang rumput luas yang berbisik ditiup angin. Sore itu, langit berubah menjadi kanvas raksasa berwarna jingga dan ungu, sebuah mahakarya alam yang tak pernah bisa ditiru oleh lensa kamera manapun.
Semasa kecil, guru-guru di sekolah sering menyuruh kita menghafal peta. “Dari Sabang sampai Merauke,” katanya, menekankan betapa luasnya negeri ini. Namun, kata-kata itu hanyalah gumpalan tinta di atas kertas buku pelajaran. Tidak ada maknanya sampai akhirnya kaki ini benar-benar menginjak tanah ini, merasakan debu merah yang hangat, dan melihat sendiri ujung dari ribuan mil perjalanan.
Di sini, waktu seolah berjalan dengan ritmenya sendiri. Tidak ada lonceng kereta yang mendesak, tidak ada klakson yang membentak. Hanya ada suara dedaunan kering yang bergesekan dan ombak di pantai yang lambat laun mengikis pasir. Ini adalah tempat di mana kenangan bertemu dengan keheningan yang absolut.
Saya duduk di bawah pohon yang rindang, membuka buku catatan yang telah menemani perjalanan dari ujung barat. Tinta yang tertinggal di setiap halamannya adalah saksi bahwa jarak bukanlah halangan untuk mengenang. Di tepi negeri ini, saya menulis ulang kenangan, menyatukan ujung barat dan timur dalam secarik kertas, sebagai bukti bahwa masa lalu selalu punya tempat untuk kembali pulang.