Pantai Padang selalu punya cara untuk membungkam sepi. Malam itu, angin laut membawa aroma garam yang menyengat, membelai wajah dengan kelembutan yang khas. Saya duduk di atas kayu lapuk yang sudah lama menjadi panggung ombak, menatap kegelapan Samudra Hindia yang seolah menelan segala kelelahan.
Suara ombak memecah karang itu bukan sekadar bising alam; ia adalah ritme jantung masa lalu. Setiap deburan membawa gema tawa dari sore-sore yang dulu dihabiskan untuk berlari di pasir, berlomba melawan surut. Dulu, waktu terasa begitu lambat. Kita pikir senja akan abadi, dan ombak akan selalu membawa pulang kerang-kerang sebagai trofi.
Kini, dunia mungkin sudah berlari terlalu cepat. Notifikasi di saku menuntut perhatian, dan layar-layar terus menyilaukan mata. Namun di sini, di tepi pantai ini, waktu menolak bergerak. Ombak tetap menyanyikan lagu yang sama seperti puluhan tahun lalu. Tidak ada yang berubah, kecuali kita yang semakin tua dan kerang yang makin susah dicari.
Saya mengeluarkan buku catatan dari saku. Tinta mulai membasahi kertas yang sedikit lembap oleh udara laut. Mungkin inilah caranya mengabadikan kenangan—bukan dengan foto, melainkan dengan tinta. Agar suara ombak ini tidak pernah berhenti bergema, bahkan ketika senja telah lama pergi.