Sebelum dunia terburu-buru oleh pesan instan, mari kita kembali ke tradisi menulis surat. Tuangkan uneg-uneg, ide liar, atau sekadar sapaan hangat di secarik kertas ini. Setiap kata yang Anda kirim akan saya baca sambil menyeruput kopi sore.
Pesan Anda telah dilipat rapi dan disegel dengan tinta kenangan. Biarkan angin waktu yang mengantarkannya ke meja kerja saya. Sampai jumpa di edisi berikutnya.